Menantikan Risalah Rapat The Fed dan Bank Indonesia Minggu Ini! | 20 September 2021

Bursa asia pada perdagangan minggu lalu berhasil ditutup meningkat disemua indeksnya, Indeks Nikkei Jepang ditutup menguat 0,58% ke level 30.500,05, Hang Seng Hong Kong melesat 1,03% ke 24.920,76, Shanghai Composite China tumbuh 0,19% ke 3.613,97, Straits Time Singapura bertambah 0,22% ke 3.071,23, KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,33% ke 3.140,51 dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir naik 0,38% ke 6.133,25. Untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kenaikannya ditopang oleh sektor Technology (2.904%), Transportation & Logistic (2.304%), Infrastructures (1.159%), Consumer Cyclicals (0.793%), Healthcare (0.489%), Financials (0.295%), Basic Materials (0.193%), Consumer Non-Cyclical (0.015%), Properties & Real Estate (-0.14%), Industrials (-0.53%), Energy (-1.192%) kendati dibebani oleh sektorTechnology (2.904%), Transportation & Logistic (2.304%), Infrastructures (1.159%), Consumer Cyclicals (0.793%), Healthcare (0.489%), Financials (0.295%), Basic Materials (0.193%), Consumer Non-Cyclical (0.015%), Properties & Real Estate (-0.14%), Industrials (-0.53%), Energy (-1.192%) yang mengalami pelemahan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6100 dan level resistance 6160. Bursa saham Wall Street pada pekan lalu secara mayoritas mengalami pelemahan, di tengah beragamnya sentimen yang hadir di pasar keuangan global sepanjang pekan lalu. Ketiga indeks utama di Wall Street tersebut juga ditutup melemah. Dow Jones melemah -0,48%, serta S&P 500 dan Nasdaq secara bersamaan turun sebesar -0,91%. Hal ini karena pasar merespon data inflasi yang akan menjadi salah satu acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter. Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus tercatat tumbuh 0,3% (bulanan) dan 5,3% (tahunan). Masalah Keuangan Raksasa Properti China Pada akhir pekan lalu bursa Asia ditutup kompak menguat, namun adnaya kabar terkait permasalahan keuangan raksasa properti China masih belum selesai dan masih menjadi perhatian para pelaku pasar saat ini. Saham China Evergramde Group ditutup turun sebesar 3,4% setelah sebelumnya saat perdagangan berjalan sempat turun 10%. Pelemahan saham Evergrande telah terjadi selama lima hari beruntun, dan telah menyentuh level terendahnya dalam hampir sepuluh tahun terakhir. Krisis Evergrande ini dapat menimbulkan risiko yang cukup besar ke sektor properti China dan dapat berdampak terhadap pergerakan indeks bursa China, serta secara luas mempengaruhi laju pertumbuhan ekonominya juga. Pemberlakuan Pembatsan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 Berpotensi Kembali Dilonggarkan Saat ini jumlah rata-rata kasus harian yang terinfeksi Covid-19 sudah berada di bawah 10.000 perhari, kembali pada tren awal tahun 2021. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Sabtu (18/09/2021), penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 tercatat 3.385 kasus, turun dibandingkan penambahan kasus hari sebelumnya yang tercatat sebesar 3.835 kasus. Maka total kasus Covid-19 di Indonesia jika dihitung sejak awal pandemi pada 1 Maret 2020 hingga Sabtu pekan lalu tercatat mencapai 4.188.529 kasus. Indonesia kini berada di urutan ke-13 dunia negara dengan pengidap Covid-19 terbanyak. Dengan adanya data tersbeut, ada potensi bahwa pada hari Senin (20/9/2021) PPKM Level 4 akan semakin dilonnggarkan sehingga membuka peluang adanya peningkatan laju pertumbuhan ekonomi yang nantinya akan mendorong kinerja emiten-emiten yang sebelumnya sempat terganggu karena adanya kenaikan kasus Covid-19 periode Juni – Agustus 2021, emiten-emiten ini meliputi emiten pada sektor konsumer, properti, infrastruktur dan keuangan. Moratorium Pembukaan Lahan Sawit Baru Presiden Joko Widodo pada 19 September 3 2018 memerintahkan penghentian penerbitan izin baru untuk pembukaan lahan sawit baru. Pada hari ini Senin (20/9/2021) menjadi hari terakhir berlakunya moratorium tersebut, apakah akan ricabut ataukah tetap dilanjutkan. Apabila diperpanjang, hal ini akan memicu kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) karena saat ini secara global supply-nya cenderung stagnan sementara permintaan dunia membaik mengikuti pembukaan kembali ekonomi di beberapa negara maju dan berkembang. Adanya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) Pada 21 September 2021 akan ada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang biasanya akn menjelaskan mengenai kebijakan moneter selama sebulan kedepan akan seperti apa. Kmeudian akan mengumumkan tingkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) yang diproyeksikan masih akan cenderung stagnan di level 3,5%. Para pelaku pasar akan memantau bagaimana kebijakan bank sentral dalam meminimalisir efek yang buruk bagi Indonesia apabila Tapering-Off akan benar dilakukan oleh US dalam waktu dekat ini. Stimulus Pembiayaan Oleh Pemerintah Untuk 5,33 Juta UMKM Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmen dan dukungannya terhadap program Digital Kredit UMKM (DigiKU) yang sebelumnya telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal ini dilakukan banyaknya para pelaku UMKM yang terkena dampak dari pandemi Covid-19 dan terpaksa gulung tikar. Sementara kontribusi UMKM terhadap perekonomian domestik cukup tinggi yakni berkisar 57%. Oleh karenanya diberlakukanlah stimulus untuk 5,33 juta UMKM dengan nomonal kredit yang mencapai Rp 322 triliun, dan saat ini sudah mulai menurun dnegan mulai debitur sebesar Rp 285 triliun yang artinya bahwa beberapa pengusaha UMKM sudah mulai membaik. Hal ini menjadi salah satu katalis positif bagi laju pertumbuhan perekonomian domestik.



Kembali