Suku Bunga BI di Pertahankan, Bagaimana IHSG Hari Ini? | 22 September 2021

Bursa Asia secara mayoritas ditutup menguat pada perdagangan Selasa kemarin, di mana Hang Seng yang sebelumnya sempat dibuka turun lebih dari 1%, pada penutupan perdagangan kemarin berhasil rebound dan menguat 0,51%. Selain Hang Seng, indeks saham BSE Sensex India, KLCI Malaysia, PSEI Filipina, Straits Times Singapura, dan Set Index Thailand juga ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin. Namun di indeks Nikkei Jepang pada perdagangan kemarin ditutup melemah hingga lebih dari 2%, karena investor mengakumulasi sentimen yang terjadi pada perdagangan Senin (20/9/2021) dan Selasa kemarin, setelah pada Senin lalu bursa Nikkei tidak dibuka karena sedang libur nasional. Untuk indeks domestik IHSG pada perdagangan kemarin ditutup melemah pada level 6060. Indeks dibebani oleh sektor Financials (-1.009%), Industrials (-0.842%), Healthcare (-0.732%), Properties & Real Estate (-0.253%), kendati ditopang oleh sektor Infrastructures (0.189%), Technology (0.278%), Consumer Non-Cyclical (0.312%), Basic Materials (0.337%), Transportation & Logistic (0.422%), Energy (0.625%), Consumer Cyclicals (1.458%) yang mengalami penguatan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6000 dan level resistance 6100. Bursa saham Wall Street ditutup beragam dengan mayoritas masih melemah pada perdagangan Selasa. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 gagal menembus kembali level penguatan pada perdagangan kemarin, Dow Jones ditutup melemah 0,15% ke level 33.919,84, dan S&P 500 turun tipis 0,08% ke level 4.354,16. Sedangkan Nasdaq Composite berhasil rebound ke zona hijau dengan menguat 0,22% ke posisi 14.746,4. Berhasil rebound-nya Nasdaq didorong oleh aksi buy on weakness investor di saham teknologi, terutama di saham Apple. Untuk sentimen yang mempengaruhi selama dua hari ini yakni lebih kepada sentimen eksternal, pertama terkait dari pertemuan bank sentral The fed yang akan dilakukan pekan ini pada hari Kamis kemudian yang kemungkinan akan membahas terkait Tapering-off yang akan dilakukan oleh the fed hingga akhir tahun serta akan ada pembacaan mengenai skema arah kebijakan moneter US selama sebulan kedepan akan seperti apa, kedua adalah dari China yang mana seperti kita ketahui bahwa sudah dua hari berlalu juga untuk bursa Hang Seng melemah ditengah hari libur dibeberapa bursa Asia pada hari senin kemarin, pelemahan tersebut dikarenakan adanya permasalah properti China yakni Evergrande salah satu perusahaan properti besar di China yang terancam gagal bayar utang serta dikhawatirkan akan berdampak secara luas terhadap pertumbuhan ekonomi China karena jika dihitung untuk likuiditas dari Evergrande sendiri senilai 2% dari PDB China. Sehingga permasalahan ini cukup mempengaruhi pergerakan bursa regional dan juga Indonesia selama dua hari dalam awal pekan ini. Namun, unutk saat ini kekhawatiran ini sudah mulai mereda. Sedangkan untuk domestik sendiri sebenarnya sentimen pada pekan ini cenderung positif. Pertama, terkait ppkm yang kembali dilonggarkan. Kedua, adanya rilis suku bunga yang masih berada dilevel yang sama yakni 3,5% begitupun dengan lending facility rate dan deposit facility rate yang masing-masing 4,25% dan 2,75%. Ketiga, kasus covid-19 sudah mulai terkendali bahkan sudah turun dibawah level 10.000 setara dengan penurunan pada awal tahun 2021, Keempat, adanya rilis loan growth bulan Agustus yang tumbuh lebih tinggi jika dibandingkan bulan sebelumnya yakni 1,16% dari 0,5% hal ini menandakan bahwa adanya recovery pertumbuhan kredit pasca kenaikan kasus Covid-19 periode Juni-Agustus dan kelima adanya outlook economy yang cukup bagus untuk kuartal 4 2021 dengan adanya peningkatan mobilitas dan aktivitas ekonomi yang sebelumnya sempat terkendala oleh beberapa aturan ppkm yg kini sudah mulai dilonggarkan. Beberapa indikator ekonomi yang akan rilis hari ini Pertama, rilisnya data cadangan minyak US yang masih menurun sebesar -6,1 juta barel per sampai tanggal 17 September 2021. Tren penurunan ini membuat fluktuasi harga minyak mentah secar global juga masih cenderung menguat. Kedua, rilis jumlah uang beredar M2 Money Supply secara YoY yang diproyeksikan akan adanya potensi peningkatan dari sebelumnya 8,9% pada bulan Juli. Ketiga, suku bunga pinjaman satu tahun (LPR) China yang diproyeksikan akan stagnan di 3,85%, sedangkan lima tahun tetap di 4,65%. Sebelumnya, Bank Rakyat China telah menyuntikkan CNY 120 miliar bersih ke dalam sistem perbankan pada akhir Agustus, injeksi mingguan terbesar sejak awal Februari, mengatakan keputusan tersebut bertujuan untuk mempertahankan "kondisi likuiditas yang stabil di akhir bulan. Keempat, dari Eropa, akan ada ECB Non-Monetary Policy Meeting dan rilisnya indeks kepercayaan konsumen (IKK) yang masih terkontraksi dilevel -5%.



Kembali