Wall Street Bergairah, Akankah IHSG Bergairah Juga Di Akhir Pekan Ini? | 24 September 2021

Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat membentuk pola candle three white soldier pada level 6142. Ditransaksikan dengan volume yang cukup ramai jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari perdagangan. Indeks ditopang oleh sektor Energy (2.189%), Technology (1.767%), Financials (1.285%), Consumer Cyclicals (1.123%), Consumer Non-Cyclical (0.249%), kendati dibebani oleh sektor Basic Materials (-0.345%), Properties & Real Estate (-0.468%), Healthcare (-0.57%), Infrastructures (-0.769%), Industrials (-1.332%), Transportation & Logistic (-1.96%) yang mengalami pelemahan walaupun belum signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6100 dan level resistance 6169. Bursa Wall Street kembali ditutup menguat pada perdagangan kamis (23/09/2021), setelah krisi Evergranda Groups di China yang mulai mereda, dan Bank Sentral AS (The Fed) terindikasi masih tetap dovish. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup terbang 1,48% ke level 34.764,82, S&P 500 berakhir melonjak 1,21% ke posisi 4.448,94, dan Nasdaq Composite China melesat 1,04% ke level 15.052,24. Sentimen dari Krisis Keuangan Evergrande yang mulai memudar Pemerintah China serius dalam menangani permasalahan terkait keuangan Evergrande, yang mana pemerintah China sudah memberikan bantuan terkait dana hingga ratusan triliun rupiah ke sisttem keuangan China. Ini dilakukan untuk menekan kekhawatiraan pelaku pasar terhadap krisis perusahaan properti terbesar kedua di China yaitu Evergrande Group. Pemerintah China telah menyuntikkan dana sebesar 120 miliar yuan atau setara Rp 264 triliun lebih ke sistem perbankan lewat repurchase agreements. The Fed masih mempertahankan suku bunga acuannya Dari AS sentimen terkait dari The Fed yang masih tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level yang mendekati nol masih menjadi sentimen positif di global untuk hari ini, yang mana penguatan Wall Street juga didorong dari sentimen tersebut. Selain itu, yang menjadi sentimen positif nya dari isu sinyal tapering mulai nampak memudar untuk saat ini. Disisi lain data klaim pengangguran AS ingguan untuk periode pekan yang berakhir 19 September juga masih perlu dicermati oleh pasar, setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa ada 351.000 tunjangan pengangguran yang tercipta pada pekan lalu. China tak akan membangun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batubara Presiden China, Xi Jinping dalam sidang Majelis Umum PBB pada Selasa (22/9/2021) malam waktu New York, AS menegaskan bahwa China tak akan lagi membangun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di luar negeri.Hal ini dilakukan sebagai bentuk komitmen baru terkait kebijakan iklim untuk menangani pemanasan global.Sebelumnya telah diketahui melalui pendanaan megaproyek 'Prakarsa Sabuk dan Jalan' atau Belt and Road Initiative (BRI) atau dulu bernama proyek OBOR (One Belt One Road), China berinvestasi di sejumlah proyek PLTU di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia juga berjanji akan mempercepat upaya China untuk menjadi "netral karbon" di 2060, termasuk mendukung negara berkembang mengembangkan energy hijau dan rendah karbon. Rilis data ekonomi hari ini yaitu PMI Manufaktur Data pembacaan awal dari indeks manajer pembelian (Purchasing Manager's Index/PMI) masih akan berlanjut pada hari ini, di mana data awal PMI Manufaktur dan Jasa Jepang akan dirilis pada pagi hari ini. Selain data PMI manufaktur dan jasa, Jepang juga akan merilisa data inflasinya pada periode Agustus 2021, di mana Negeri Matahari Terbit tersebut akan merilis data inflasi dari sisi harga konsumen (indeks harga konsumen/IHK). Di Korea Selatan, data inflasi periode Agustus juga akan dirilis pada hari ini, di mana data inflasi yang akan dirilis dari sisi harga produsen (indeks harga produsen/PPI).



Kembali