Rilis Inflasi AS, Hati-hati Capital Outflow di Indonesia | 13 Apr 2021

Indeks pada perdagangan kemarin Senin (12/4/2021) ditutup melemah pada level 5949 (-2%) ditransaksikan senilai Rp 9.56 Triliun dengan volume transaksi 16.13 Miliar lembar saham dimana asing melakukan Aksi Jual Bersih Rp -270.79 Miliar pada beberapa saham LQ45 seperti: BBCA -184(B) , ASII -59.(B) , BBTN -54.(B) , SMGR -23.(B) , PTBA -22.(B) , PWON -19.(B) , BBRI -19.(B). Adapun sektor yang membebani laju indeks perdagangan kemarin meliputi sektor Property (-3.452%), Misc-Ind (-3.069%), Mining (-2.39%), (-2.248%), Consumer (-2.227%), Infrastructure (-1.961%), Basic-Ind (-1.954%), Trade (-1.76%), Finance (-1.7%), Agriculture (-0.673%). Berikut beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG baik dari domestik maupun eksternal. Pertama adanya rilis data mengenai penjualan ritel Indonesia yang baru saja rilis pagi tadi jam 10.00WIB yang mengalami pelemahan dibandingkan sebelumnya -16.4% pada bulan Januari menjadi -18.1%. pelemahan ini terjadi sudah 15 bulan berturut-turt sejak awal tahun 2020. penyebab turunnya angka penjualan ritel ini juga tak lepas dari adanya dampak penyebaran virus Covid-19 yang melanda Indonesia dan hampir seluruh negara didunia, yang membuat masyarakat cenderung menahan spendingnya sehingga penjualan ritel mengalami penurunan. Penurunan penjualan tertinggi terjadi pada alat informasi dan komunikasi yakni sebesar -39.7% dari sebelumnya 38.8% pada Januari, lalu Makanan, Minuman dan Tembakau yang mengalami penurunan juga sebesar -9.8% dibandingkan sebelumnya -7.0%, lalu ada juga dari bahan bakar yang mengalami penurunan tipis dari sebelumnya -17.6% menjadi 17.1%, peralatan rumah tangga -27.4% dari sebelumnya -25.8%, dan terkahir ada dari barang budaya dan rekreasi yang mengalami penurunan sebesar 61% dari sebelumnya -53% (penurunan barang budaya dan rekreasi ini menjadi penurunan terbesar kedua setelah informasi dan komunikasi. secara bulanan angka penjualan ritel mengalami penurunan 2.7%. Lalu masih dari domestik, minggu ini akan rilis data mengenai neraca perdagangan, ekspor dan impor selama bulan Maret yang akan rilis hari Kamis. Untuk Neraca Perdagangan Indonesia menurut konsensus Trading Economics diproyeksikan akan mengalami penurunan sebesar $ 1.5B dari sebelumnya $2.01B. Sedangkan dari ekternal seperti China akan rilis data mengenai neraca perdagangan, ekspor dan impornya. Lalu dari Euro Area akan rilis data penjualan ritelnya selama Februari, kemudian dari US akan rilis data inflasi secara YoY dan MoM nya selama bulan Maret serta tingkat inflasi intinya juga (core inflation rate), dimana angka inflasi di US diperkirakaan akan mengalami kenaikan dari sebelumnya. Dimana apabila benar terjadi kenaikan pada angka inflasi yang ada, hal tersebut akan mendorong Yield obligasi US tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan, karena seperti yang kita ketahui korelasi pergerakan antara yield obligasi dengan inflasi yaitu positif atau bergerak searah. Selain angka inflasi, dari US juga akan rilis data mengenai penjualan ritel dan data Manufacturing Productions secara YoY dan MoM pada bulan Maret.



Kembali