Riset & Berita

The Bull is Trying to Comeback

IHSG 4457         233.91        -4.99%

Net Foreign Sell YTD……..7.56T

 

R2:   4650

R1:   4550

S1:   4350

S2:   4250

 

*IHSG Outlook*

Indeks pada perdagangan kemarin ditutup melemah membentuk pola trend bearish continuation menguji support level 4350, apabila level ini tertembus maka berpotensi melanjutkan pelemahan hingga melemah ke level support 4250. Indeks nampak ditransaksikan relatif sepi dengan nilai transaksi terjadi sebesar 7,03 triliun, kendati asing melakukan aksi jual bersih sebesar 1 triliun. Penguatan indeks ditopang oleh seluruh sektor yaitu sektor Basic-Ind (-5.903%), Infrastructur (-5.874%), Manufactur (-5.7%), Misc -Ind (-5.697%), Finance (-5.631%), Consumer (-5.595%), Agriculture (-3.51%), Mining (-3.191%), Trade (-2.288%), Property (-2.003%). Indeks pada hari ini diperkirakan bergerak consolidation dengan range pergerakan 4350 sampai 4550. 

 

*Global Sentiment*

Sentimen pertama yaitu dari Wall Street yang ditutup menguat, namun bukan berarti drama trading halt dan market crash yang terjadi akhir-akhir ini akan segera berakhir. Pasar saham masih berpotensi bergerak dengan fluktuasi yang tinggi. Ada hawa ketakutan yang juga dirasakan di pasar. Hal ini tercermin dari angka CBOE Volatility Index yang berada di rentang tertingginya dan melampaui level saat krisis ekonomi 2008 lalu. Indeks ini sering juga dikenal dengan fear index. Ketika indeks bergerak naik maka pasar sedang diliputi dengan kecemasan atau bahkan kepanikan seperti sekarang ini.

 

Sentimen kedua yaitu respon pemerintah global terkait wabah COVID-19 yang langsung berhubungan dengan sistem kesehatan, fiskal maupun moneter. Dari sistem kesehatan, berbagai upaya sudah mulai dilakukan mulai dari yang sederhana seperti social distancing hingga lockdown. Sementara dari segi moneter, bank-bank sentral di dunia sudah melakukan pemangkasan suku bunga acuannya (The Fed, Bank of England, Reserves Bank of Australia hingga Bank Indonesia). Tak hanya itu The Fed dan Bank of Japan (BoJ) juga memulai kembali program pembelian aset-aset keuangan guna memompa likuiditas. Sementara dari segi fiskal sendiri AS sudah berencana meggelontorkan stimulus fiskal hingga lebih dari US$ 1 triliun untuk meredam dampak COVID-19 terhadap ekonomi AS. stimulus fiskal juga sudah dipersiapkan berbagai negara di dunia. 

 

*Indikator*

Pertumbuhan ekonomi (QIV-2019 YoY) 5,02%

Inflasi (Februari 2019 YoY) 2,68%

BI 7 Day Reverse Repo Rate (Februari 2019) 4,75%

Defisit anggaran (APBN 2020) -1,76% PDB

Transaksi berjalan (QIV-2019) -2,72% PDB

Neraca pembayaran (QIV-2019) -US$ 4,28 miliar

Cadangan devisa (Februari 2019)US$ 130,44 miliar

 

Share this Post:

Related Posts: