Riset & Berita

The Bear Trying to stand till The Limi

IHSG 3938         51.89        -1.3%
Net Foreign Sell YTD……..10.22T
 
R2:   4100
R1:   4000
S1:   3800
S2:   3700
 
*IHSG Outlook*
Indeks pada perdagangan kemarin ditutup melemah membentuk pola consolidation menguji support level 3800, apabila level ini tertembus maka berpotensi melanjutkan pelemahan hingga melemah ke level support 3700. Indeks nampak ditransaksikan relatif sepi dengan nilai transaksi terjadi sebesar 7,76 triliun, kendati asing melakukan aksi jual bersih sebesar 631 miliar. Pelemahan indeks dibebani oleh sektor Misc -Ind (-4.573%), Property (-2.915%), Infrastructur (-2.101%), Basic-Ind (-1.879%), Manufactur (-1.694%), Finance (-1.612%), Consumer (-0.871%), Trade (-0.103%), kendati ditopang oleh sektor Agriculture (1.061%), Mining (3.636%) yang masih mencoba mengalami penguatan meskipun kurang signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan bergerak consolidation dengan range pergerakan 3800 sampai 4000.
 
*Global Sentiment*
Untuk perdagangan hari ini investor perlu mencermati sentimen terkait pandemi COVID-19 yang melanda saat ini. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sudah lebih dahulu melonggarkan kebijakan moneter guna meredam dampak COVID-19, meski masih belum seagresif The Fed. Pada rapat kebijakan moneter bulan Februari lalu, BI menurunkan suku bunga acuannya (7-Day Reverse Repo Rate) meskipun pandemi COVID-19 belum masuk ke Indonesia. Penurunan suku bunga acuan dilakukan sebagai antisipasi (preemptive) terhadap penyebaran dampak virus Corona. Dengan pemangkasan suku bunga tersebut, diharapkan roda perekonomian dalam negeri lebih terpacu untuk meminimalisir efek pelambatan ekonomi China. Selain itu, Pemerintah RI juga tidak tinggal diam, stimulus fiskal sudah digelontorkan. Pemerintah melakukan relaksasi pada Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, PPh Pasal 22 Impor, PPh Pasal 25 dan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). 
 
Untuk memberikan stimulus ini, pemerintah memperkirakan defisit anggaran 2020 bisa bertambah menjadi sekitar 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebelumnya, rencana defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 adalah 1,76% PDB. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengatakan, ada total sebesar Rp 62,3 triliun dari realokasi anggaran APBN, baik yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) baik di pemerintah pusat dan daerah untuk diprioritaskan seuasi dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebelumnya, berbagai insentif juga sudah digelontorkan seperti subsidi avtur agar harga tiket pesawat turun, pembebasan pajak hotel dan restoran, tambahan anggaran Bantuan Sosial, serta penambahan jumlah rumah bersubsidi dan menambah anggaran subsidi uang muka.
 
 Selanjutnya, Presiden Jokowi juga mengatakan akan memberikan kelonggaran pembayaran bunga atau angsuran selama 1 tahun bagi tukang ojek, sopir taksi, maupun nelayan yang saat ini memiliki cicilan kredit. Adapun khusus pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM), Jokowi mengatakan bahwa OJK telah memberikan kelonggaran relaksasi kredit untuk nilai kredit di bawah Rp 10 miliar. Dalam waktu dekat, implementasi tambahan bantuan sosial dalam Kartu Sembako selama 6 bulan kepada 200.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pun akan diluncurkan. Tak terkecuali, dengan implementasi Kartu Pra Kerja. Semua kebijakan moneter dan fiskal tersebut dilakukan untuk melindungi perekonomian RI dari guncangan COVID-19. Dan ketika pandemi tersebut berhasil dihentikan, maka perekonomian akan rebound dengan cepat. 
 
*Indikator*
Pertumbuhan ekonomi (QIV-2019 YoY) 5,02%
Inflasi (Februari 2019 YoY) 2,68%
BI 7 Day Reverse Repo Rate (Februari 2019) 4,75%
Defisit anggaran (APBN 2020) -1,76% PDB
Transaksi berjalan (QIV-2019) -2,72% PDB
Neraca pembayaran (QIV-2019) -US$ 4,28 miliar
Cadangan devisa (Februari 2019)US$ 130,44 miliar

 

Share this Post:

Related Posts: