Rusia-Ukraina Memanas, Komoditas Minyak Mentah, Batu Bara, CPO to The Moon | 3 Mar 2022 | 01 January 1970
'IHSG pada perdagangan kemarin ditutup menguat terkonsolidasi terjadi gap up, dimana asing masih mencatatkan aksi beli bersih dengan volume transaksi yang relatif signifikan. Adapun sektor yang mendorong laju IHSG seperti sektor Technology (2.976%), Energy (1.276%), Financials (1.061%), Infrastructures (0.626%), Consumer Non-Cyclical (0.226%), Consumer Cyclicals (0.011%), kendati sedikit dibebani oleh sektor Basic Materials (-0.052%), Industrials (-0.151%), Properties & Real Estate (-0.296%), Transportation & Logistic (-0.7%), Healthcare (-1.412%) yang mengalami pelemahan kendati tidak begitu signifikan. Perdagangan pada transaksi di Bursa kemarin relatif ramai, saham-saham komoditas menjadi primadona pada perdagangan kemarin. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah pada range pergerakan support 6880 dan resistant 7000
'Pasar keuangan Indonesia ceria pada perdagangan Selasa kemarin. Investor asing masih terus mengalirkan modalnya ke dalam negeri, membuat Indeks Harga Saham Gabungan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, pada perdagangan Rabu ada risiko pembalikan arah pasar keuangan Indonesia, sebab sentimen pelaku pasar sedang memburuk akibat kemungkinan "Fall of Kyiv". Tetapi jika investor asing terus mengalirkan modalnya ke dalam negeri, ada peluang IHSG bisa kembali ke zona hijau dan diikuti dengan rupiah serta Surat Berharga Negara (SBN). Namun, Jebloknya Wall Street yang merupakan kiblat bursa saham dunia tentunya memberikan sentimen negatif ke pasar Asia pada hari ini. Memang, IHSG beberapa kali mampu "melawan gravitasi", tetapi melihat posisinya yang memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa kemarin, tentunya ada risiko aksi ambil untung. Sepanjang pekan lalu investor asing tercatat melakukan net buy Rp 4,11 triliun, sementara dalam di bulan Februari net buy tercatat sebesar Rp 17,59 triliun. Aksi borong tersebut terjadi meski perang Rusia dengan Ukraina sedang berkecamuk. Ibu kota Ukraina Kyiv kini berisiko jatuh melihat konvoi besar pasukan Rusia. Perang yang dikobarkan Rusia juga membuat harga minyak mentah meroket. Sejak Kamis pekan lalu, minyak mentah jenis Brent melesat ke atas US$ 100/barel untuk pertama kalinya sejak 2014. Pada perdagangan Selasa, giliran minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) yang kembali ke atas tersebut. Minyak WTI pada perdagangan Selasa meroket lebih 11% ke kisaran US$ 106/barel, dan kini lebih tinggi dari Brent yang kembali naik 4%. WTI merupakan minyak mentah yang diperdagangkan di Amerika Serikat, kenaikan tajam harganya tentunya berisiko mengakselerasi inflasi yang saat ini sebesar 7,5%, tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Bank sentral AS (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga di bulan ini dikatakan dalam posisi yang rumit. Kenaikan inflasi perlu diredam dengan mengerek suku bunga lebih tinggi, tetapi hal itu berisiko memukul pertumbuhan ekonomi. Sementara itu kenaikan harga minyak mentah akan berdampak ke Angaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namun, tekanannya tidak akan begitu besar. Sebab Indonesia masih ekspor minyak dan gas, sehingga ketika ada kenaikan harga maka bisa berdampak positif terhadap penerimaan. Di nota keuangan APBN 2022 di sini pemerintah bikin simulasi, setiap kenaikan minyak mentah RI, naik 1 dolar AS per barel akan dongkrak penerimaan PPnBM dan PPh Migas Rp 3 triliun.







