Rusia-Ukraina Berdamai Sementara, Harga Komoditas Kembali Terkoreksi! | 01 January 1970
'IHSG pada perdagangan kemarin ditutup memelah terkonsolidasi terjadi gap up, dimana asing masih mencatatkan aksi beli bersih dengan volume transaksi yang relatif signifikan. Adapun sektor yang membebani indeks yaitu sektor Transportation & Logistic (-2.281%), Technology (-1.535%), Financials (-1.424%), Consumer Cyclicals (-1.354%), Basic Materials (-0.989%), Infrastructures (-0.824%), Properties & Real Estate (-0.521%), Industrials (-0.515%), Healthcare (-0.231%) dan yang membebani adalah sektor Transportation & Logistic (-2.281%), Technology (-1.535%), Financials (-1.424%), Consumer Cyclicals (-1.354%), Basic Materials (-0.989%), Infrastructures (-0.824%), Properties & Real Estate (-0.521%), Industrials (-0.515%), Healthcare (-0.231%), Consumer Non-Cyclical (0.102%), Energy (2.755%) kendati tidak signifikan. . Perdagangan pada transaksi di Bursa kemarin relatif ramai, saham-saham komoditas menjadi primadona pada perdagangan kemarin. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah pada range pergerakan support 6800 dan resistant 6900
Bursa saham AS (Wall Street) berfluktuasi dalam dua hari terakhir. Pada perdagangan Rabu lalu tercatat mampu menguat tajam, sementara kemarin kembali melemah meski sempat menghijau di awal sesi. Indeks Dow Jones mengakhiri perdagangan di 33.794,66 melemah 0,3%, kemudian indeks S&P 500 turun 0,53% ke 4.363,49 dan Nasdaq ambrol 1,56% ke 13.537,94.
Sentimen pertama yaitu kondisi di Ukraina yang mulai membaik. Perundingan antara Rusia dan Ukraina kembali berlanjut, meski belum menemukan kata damai, tetapi kedua negara memiliki sikap yang sama terkait perlunya "koridor kemanusiaan" yang kemungkinan dilakukan dengan gencatan senjata sementara. Kedua belah pihak memutuskan untuk saling pengertian untuk mengevakuasi warga sipil. Selain itu, dampak dari perang yang belakangan ini terjadi menyebabkan harga komoditas meroket. Terutama komoditas energi yang sangat menjadi perhatian. Minyak mentah dan gas alam terus naik signifikan, disusul dengan batubara yang juga terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Sentimen kedua yaitu perang antara Rusia-Ukraina menjadi sorotan Ketua Bank Sentral AS (The Fed) yang mana bisa memberikan dampak yang tidak bisa diprediksi. Dengan meroketnya harga komoditas maka akan mendorong inflasi untuk naik lebih tinggi lagi. Sehingga akan mendorong The Fed dan bank sentral lainnya menjadi lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuannya. Saat ini, Powell mendukung kenaikan sebesar 25 basis poin di bulan ini. Namun, jika nantinya The Fed lebih agresif dalam menaikkan suku bunga, maka ada risiko pasar finansial global akan mengalami gejolak, termasuk Indonesia. Pasar finansial saat ini sudah price-in kenaikan suku bunga sebesar 100 hingga 125 basis poin di tahun ini. Jika lebih dari itu, risiko terjadinya gejolak tentunya semakin besar. Dampaknya tentu akan terjadi capital outflow dari pasar Indonesia. (source : CNBC Indonesia)







