Ini Dia Hasil keputusan BI7DRRR, Mari Lihat Respons Marketnya ! | 01 January 1970
Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat berada pada level 6914 bergerak sideways 3 hari terakhir ditransaksikan dengan volume transaksi yang relatif ramai. Indikator stochastic berpotensi terjadi golden cross, di areal pertangahan. Sementara itu, MA 5 Berpotensi memoteng MA20 indikasi adanya potensi penguatan terbatas. Indeks ditopang oleh sektor Transportation & Logistic (6.423%), Energy (2.23%), Basic Materials (1.869%), Industrials (1.35%), Infrastructures (0.443%), Consumer Cyclicals (0.219%), Financials (0.211%), Healthcare (0.126%), Properties & Real Estate (0.074%), kendati sedikit dibebani oleh sektor Consumer Non-Cyclical (-0.032%), Technology (-1.147%) yang mengalami pelemahan yang kurang signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat pada range level support 6860 dan level resistance 6950.
Pada perdagangan hari ini sentimen pasar utama masih didominasi oleh reaksi investor akan keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan di level terendah, meskipun secara terbatas respons pasar tampaknya masih positif dengan IHSG ditutup menguat kemarin. Kemarin, BI secara resmi mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG). Hasilnya sesuai ekspektasi, suku bunga acuan masih belum diutak-atik. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 23-24 April untuk mempertahankan BI7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Dengan demikian, BI 7 Day Reverse Repo Rate tidak pernah berubah selama 15 bulan. Suku bunga acuan 3,5% adalah yang terendah sepanjang sejarah Indonesia. Namun, BI juga mengambil langkah-langkah guna menjaga stabilitas rupiah dengan mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas dengan menaikkan GWM secara bertahap.
Selanjutnya investor juga patut menyimak dampak kebijakan Bank Indonesia (BI) yang kembali mengerek Giro Wajib Minimum (GWM), khususnya terhadap sektor perbankan. Sebelumnya di awal tahun ini, BI berencana mengerek GWM Pada Maret (100 basis poin), Juni (100 basis poin) dan September (50 basis poin), untuk bank umum konvensional (BUK) menjadi 6,5%. Dan untuk bank umum syariah (BUS) di September GWM menjadi 5%, dengan kenaikan masing-masing 50 basis poin. Kemarin, BI mempercepat dan menaikkan lagi GWM tersebut. Untuk BUK, GWM yang saat ini 5% akan naik menjadi 6% di bulan Juni, kemudian 7,5% di bulan Juli dan 9% di bulan September. Untuk BUS yang saat ini 4% naik menjadi 4,5% di Juni, 6% di Juli dan 7,5% di September. Kenaikan tersebut diperkirakan akan menyerap likuiditas di perekonomian sebesar Rp 110 triliun. Tetapi tidak akan mengurangi kemampuan perbankan menyalurkan kredit sebab likuiditas dikatakan masih sangat longgar. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) saat ini berada di kisaran 29% dan akan turun menjadi 28% dengan kenaikan GWM. Tetapi AL/DPK tersebut masih jauh lebih tinggi dari sebelum pandemi Covid-19 melanda di kisaran 21%. Penyerapan likuiditas tersebut pada akhirnya diharapkan mampu untuk membuat rupiah menjadi jauh lebih stabil.
Terakhir, investor juga tampaknya perlu memantau kondisi ekonomi AS yang saham sahamnya kemali berguguran akibat kinerja pasar keuangan di negeri Paman Sam secara luas. Pengetatan kebijakan moneter tampaknya masih menjadi momok dan efeknya mungkin dapat dirasakan hingga ke pasar modal dalam negeri. Sebelumnya Goldman Sachs memperkirakan ada kemungkinan 35% ekonomi AS memasuki resesi dalam dua tahun ke depan. yang menyebut bahwa inflasi yang sedang 'mengamuk' hanya akan hilang jika Federal Reserve bertindak lebih agresif atau aksi jual pasar membuat pasar keuangan runtuh. "Tidak ada prospek pengurangan inflasi yang material kecuali The Fed secara agresif menaikkan suku bunga, atau pasar saham ambruk, mengkatalisasi keruntuhan ekonomi dan hancurnya permintaan.







