Pasar Global Bergairah, Brent dan WTI Melambung, Gimana IHSG? | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan kemarin ditutup melemah berada pada level 6883. bergerak sideways 3 hari terakhir ditransaksikan dengan volume transaksi yang relatif sepi. Indikator stochastic berpotensi terjadi golden cross, di areal pertangahan. . Indeks dibebani oleh sektor Basic Materials (-1.38%), Financials (-0.896%), Consumer Cyclicals (-0.39%), Properties & Real Estate (-0.216%), Transportation & Logistic (-0.198%), Industrials (-0.162%), Technology (-0.117%), Energy (-0.11%), Consumer Non-Cyclical (-0.088%), kendati sedikit ditopang oleh sektor Infrastructures (0.151%), Healthcare (0.685%) yang mengalami penguatan yang kurang signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada range level support 6800 dan level resistance 6940.
Pada perdagangan hari ini terdapat beberapa sentimen pasar utama yang patut diperhatikan oleh investor. Pertama adalah terkait risalah dari pertemuan The Fed 3-4 Mei yang dirilis Kamis dini hari kemarin waktu Indonesia barat. Risalah menunjukkan bahwa para pejabat bank sentral AS membahas kemungkinan bahwa mereka akan menaikkan suku bunga ke tingkat yang cukup tinggi untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan sengaja demi memerangi inflasi yang tinggi. Pejabat Federal Reserve berpikir mereka perlu menaikkan suku bunga masing-masing setengah poin persentase (50 bps) pada dua pertemuan berikutnya ketika mereka menyetujui kenaikan siklus kedua pada pertemuan awal bulan ini. Meski sepakat menaikkan suku bunga secara lebih agresif dalam dua bulan ke depan, para pejabat The Fed masih memperdebatkan langkah apa yang akan diambil selanjutnya, apakah kebijakan agresif terus berlanjut atau tidak. Beberapa presiden Fed regional mengatakan mereka akan mendukung untuk melanjutkan laju kenaikan suku bunga yang agresif pada bulan September jika pembacaan inflasi bulanan tetap tinggi.
Selain AS, Investor juga patut menyimak dinamika kondisi ekonomi China. Rabu kemarin, pemerintah China menggelar rapat raksasa yang diikuti lebih dari 100 ribu pejabat untuk membahas langkah-langkah stabilisasi ekonomi yang terpukul akibat lonjakan kasus Covid-19 yang diikuti penguncian sejumlah wilayah. Sebelumnya, tidak pernah ada pertemuan dengan skala seperti ini selama bertahun-tahun, dan belum pernah juga terjadi sebelumnya satu pertemuan membahas begitu banyak tingkat administrasi pemerintahan sekaligus.
Investor juga patut memperhatikan perkembangan harga komoditas, khususnya minyak dan gas yang kembali naik signifikan kemarin. Kenaikan harga migas dapat menimbulkan efek domino pada komoditas lain seperti batu bara. Harga minyak mentah (crude oil) dunia naik sekitar 3% ke level tertinggi dua bulan pada hari Kamis (26/5) di tengah tanda-tanda pasokan yang ketat karena Uni Eropa (UE) berencana untuk melarang impor minyak mentah dari Rusia atas invasinya ke Ukraina, meskipun perdebatan dengan Hongaria masih berlanjut. Pasokan minyak yang ketat ini terjadi menjelang musim panas kala penduduk ramai-ramai melakukan mobilisasi dan membutuhkan tingkat energi yang lebih tinggi. Kontrak berjangka Brent naik US$ 3,37 lebih tinggi ke harga US$ 117,40 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,4% ke level US$ 114,09 per barel.
Selanjutnya dari dalam negeri, investor juga perlu dengan seksama mengati aksi korporasi yang cukup ramai hari ini, dengan musim dividen yang masih terus berlanjut. Hari ini 11 emiten dijadwalkan akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) salah satunya membahas penggunaan laba perusahaan untuk tahun buku 2021 lalu. Beberapa perusahaan besar yang akan melakukan RUPST termasuk Telkom yang jika masih mengikuti taktik tahun-tahun sebelumnya, sepertinya tetap akan membagi dividen tahun ini.







