Investor US Mulai Lega, Ada Harapan Inflasi US Terkendali dan The Fed Kurang Agresif | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat berada pada level 7026 . terjadi gap up membentuk pola candle long white marubozu setelah bergerak sideways sepekan terakhir ditransaksikan dengan volume transaksi yang relatif ramai. Indikator stochastic berpotensi terjadi golden cross, di areal pertangahan. Indeks menguat ditopang oleh sektor Transportation & Logistic (4.757%), Financials (2.637%), Basic Materials (1.94%), Energy (1.436%), Infrastructures (1.337%), Technology (1.318%), Properties & Real Estate (0.949%), Industrials (0.819%), Consumer Cyclicals (0.809%), Consumer Non-Cyclical (0.774%), kendati sedikit dibebani oleh sektor Healthcare (-1.666%) yang mengalami pelemahan yang kurang signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada range level support 6970 dan level resistance 7020.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan sepekan lalu, sehingga indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 menghentikan koreksi 8 pekan beruntun. Kinerja sepekan lalu menjadi yang terbaik sejak November 2020. Sepanjang pekan, Dow terhitung melompat 6,2% dan memutus koreksi 8 pekan beruntun yang merupakan pelemahan terpanjang sejak tahun 1923. '
Optimisme pasar bangkit setelah inflasi dilaporkan melambat, dengan belanja konsumsi perorangan (personal consumption expenditure/PCE) tumbuh 4,9% per April, atau melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 5,2%. maka langkah agresif penaikan suku bunga AS bisa dihindari dan membantu mengurangi tekanan atas saham teknologi.
Optimisme akan perlandaian inflasi tersebut memicu pelemahan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun-yang menjadi acuan pasar, ke bawah level 2,75% dari posisi tertinggi sepanjang tahun ini di angka 3%.
Penyentuh titik dasarnya, sehingga reli sepekan lalu benar-benar memiliki legitimasi dan berkelanjutan?
Jika dicermati lebih jauh, penyebab reli pekan lalu adalah sentimen-sentimen yang bersifat jangka pendek, yang terkait erat dengan faktor risiko yang paling mengkhawatirkan bagi perekonomian dunia dan diperhatikan pelaku pasar.
Data inilah yang menjadi biang penguatan di pasar pekan lalu, yang memicu para investor berspekulasi bahwa inflasi di AS sudah mencapai titik tertingginya, dus semestinya bakal terus menurun. Namun yang mungkin luput dari analisis jangka pendek pelaku pasar tersebut adalah faktor krusial pemicu inflasi yang masih merajalela dan belum terkendalikan, yakni perang Rusia dan Ukraina. Faktor geopolitis inilah yang menjadi biang inflasi dunia dan di negara maju.
Dari dalam negeri ada hal menarik mengenai batubara, Harga batu bara diperkirakan bergerak dalam tren kenaikan pada pekan ini setelah ambles pada minggu lalu. sejumlah faktor positif akan mendongkrak harga batu bara pekan ini. Di antaranya adalah masih besarnya permintaan dari India serta dibukanya kembali perekonomian China. Faktor lainnya adalah pasokan energi lain seperti gas dan minyak di beberapa negara termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat yang menipis.
Seperti diketahui, India masih berkutat dengan persoalan pasokan batu bara setelah permintaan listrik di negara tersebut melonjak tajam akibat adanya gelombang hawa panas. Pemerintah India bahkan sudah mengeluarkan perintah khusus kepada BUMN tambang Coal India Ltd untuk mengimpor harga batu bara. Impor tersebut akan menjadi yang pertama yang dilakukan perusahaan tersebut sejak 2015 lalu. India tengah mempercepat pasokan batu bara impor karena adanya lonjakan penggunaan listrik. Impor juga diharapkan bisa mengamankan pasokan batu hitam untuk menghadapi musim hujan Juli-September mendatang.
Sementara itu, China diperkirakan akan membuka lockdown pada Juni mendatang. Keputusan tersebut diharapkan bisa meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus permintaan batu bara di Negara Tirai Bambu. Impor batu bara China turun 16% menjadi 75,41 juta ton pada Januari-April tahun ini. Penurunan impor salah satunya dipicu oleh lockdown, terutama di pusat bisnis Shanghai. Harga batu bara juga diprediksi masih bergerak positif karena semakin menipisnya persediaan gas untuk kawasan Eropa. Kawasan tersebut selama ini menggantungkan 40% pasokan gas alam dari Rusia. Eropa bahkan terancam akan kehabisan pasokan gas alam sebelum November tahun ini karena mereka membatasi impor gas Rusia. Kondisi tersebut bisa meningkatkan permintaan batu bara sebagai sumber energi alternatif di kawasan tersebut.







