Simak Rilis Inflasi dan PMI manufacture Indonesia ! Semoga dapat Menopang IHSG | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat berada pada level 7148 . terjadi gap up membentuk pola candle long white marubozu setelah bergerak sideways sepekan terakhir ditransaksikan dengan volume transaksi yang relatif ramai berpotensi menutup gap 7230. Indikator stochastic berpotensi terjadi golden cross, di areal pertangahan. Indeks menguat ditopang oleh sektor Energy (2.55%), Industrials (2.301%), Consumer Non-Cyclical (1.918%), Basic Materials (1.6%), Infrastructures (1.395%), Financials (1.331%), Transportation & Logistic (0.645%), Consumer Cyclicals (0.369%), Healthcare (0.143%), kendati sedikit dibebani oleh sektorProperties & Real Estate (-0.14%), Technology (-1.047%) yang mengalami pelemahan yang kurang signifikan. Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada range level support 7100 dan level resistance 7200. Setelah mengalami tekanan di bulan Mei, pasar finansial Indonesia bakal mengawali perdagangan bulan Juni pada hari ini. Tekanan koreksi global membayangi rilis inflasi nasional pada hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang bulan lalu sempat jeblok hingga nyaris 10% ke 6.509,879, yang merupakan level terlemah sejak awal Desember tahun lalu. Namun, pelemahan terpangkas menjadi 1,1% ke 7.148,99 sepanjang Mei. Investor asing tercatat masih yakin memburu aset berisiko tinggi nasional tersebut, dengan nilai pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 2,61 triliun. Kenaikan suku bunga acuan, apalagi secara agresif, akan membuat imbalan investasi di aset berbasis dolar AS ikut terangkat. Akibatnya, arus modal akan lebih tertuju di Negeri Sam sehingga membuat mata uang lain melemah, termasuk rupiah. Kabar terbaru, Gedung Putih juga sudah memberikan restu rencana bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan secara agresif. Presiden AS Joseph 'Joe' Biden menyatakan menghormati penuh independensi The Fed dalam upaya pengendalian inflasi. Kini, pasar memperkirakan suku bunga acuan AS akan berada di 2,75%-3% pada akhir tahun nanti. Di sisi lain, pasar obligasi juga mengalami tekanan, terlihat dari imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang mengalami kenaikan 29,8 basis poin (bp) ke 7,047%. Artinya, harga sedang melemah karena investor melakukan aksi jual yang menunjukkan optimisme atas prospek aset berisiko di luar safe haven tersebut.
Sentimen dari dalam negeri, Kamis ini merupakan hari perdagangan pertama di bulan Juni. Pelaku pasar akan memantau rilis data inflasi untuk menemukan "ketenangan" dalam berbelanja saham. Mei merupakan periode di mana dampak perang Ukraina bakal terlihat di Tanah Air. Badan Pusat Statistik akan mengumumkan inflasi Mei pagi ini. Pada April lalu, inflasi menembus 0,95% (bulanan) atau menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017. Secara tahunan, inflasi melonjak 3,47% di April, atau yang tertinggi sejak Agustus 2019. Namun, sepertinya investor masih bisa menahan nafas lefa karena meski inflasi tahunan Mei diperkirakan masih melambung, inflasi bulanan masih melandai. Inflasi tahunan meninggi karena basis yang rendah pada tahun lalu akibat pandemi, sementara inflasi bulanan yang mencerminkan tren tahun ini (di tengah perang Ukraina) diprediksi masih aman. Konsensus pasar dari 13 institusi memperkirakan inflasi Mei menembus angka 3,55% (secara tahunan). Level tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak Januari 2017 atau dalam lima tahun terakhir di mana pada saat itu inflasi tercatat 3,61%. Namun inlasi bulanan diprediksi di angka 0,41% atau melandai dari sebelumnya 0,95%. Polling inflasi dari konsensus pasar tersebut sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia (BI). Berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) pada minggu IV, inflasi Mei diperkirakan 0,35% (bulanan) dan 3,5% (tahunan). Tanda inflasi yang melandai bisa memberikan sentimen positif ke pasar modal. Sebab, tekanan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga menjadi lebih kecil. BI sendiri optimistis inflasi tahun ini masih terkendali, meski akan sedikit di atas 4%. Dengan suku bunga acuan nasional (BI 7-Day Reverse Repo Rate) ditahan di rekor terendah sepanjang masa pada 3,5%, momentum pertumbuhan ekonomi pun terjaga di tengah menguatnya risiko ekonomi global akibat perang Ukraina. Konfirmasi lebih lanjut mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa ditemukan di rilis data aktivitas sektor manufaktur Indonesia bulan Mei. Sebelumnya di bulan April, aktivitas sektor manufaktur yang dilihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) mengalami kenaikan menjadi 51,9 dari bulan sebelumnya 51,3. Angka di atas 50 mengindikasikan ekspansi, dan di bawah itu menunjukkan gejala kontraksi. Menurut proyeksi Tradingeconomics, indeks PMI sektor manufaktur Indonesia tersebut bakal masih aman di angka 51,8. Jika data inflasi dan indeks PMI tersebut aman, maka pelaku pasar memiliki alasan kuat untuk tenang berbelanja saham-saham unggulan. Hanya saja, angin global masih buruk setelah bursa AS melemah karena investor melakukan aksi jual karena khawatir dengan prospek ekonomi dunia di tengah kenaikan suku bunga acuan AS secara agresif.







