Data Inflasi Indonesia Sesuai Ekspektasi, Initial Jobless Claim US Membaik, IHSG lanjut Rally ! | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat berada pada level 7148 . terjadi gap up membentuk pola candle doji setelah bergerak rally sepekan terakhir ditransaksikan dengan volume transaksi yang relatif ramai berpotensi menutup gap 7230. Indikator stochastic berpotensi sudah berada di areal overbought atau jenuh beli berpotensi terjadi aksi profit taking. Indeks sedikit dibebani oleh sektor Basic Materials (-1.6%), Financials (-1.303%), Energy (-0.904%), Healthcare (-0.576%), Industrials (-0.431%), Properties & Real Estate (-0.246%), Consumer Non-Cyclical (-0.071%), kendati sedikit ditopang oleh sektor Infrastructures (0.153%), Consumer Cyclicals (0.202%), Transportation & Logistic (2.013%), Technology (4.429%). Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah pada range level support 7100 dan level resistance 7220.
Pelaku pasar menyambut rilis inflasi Mei dengan aksi jual di bursa kemarin, sementara obligasi diburu yang berbarengan dengan apresiasi rupiah. Hari ini peluang penguatan terbuka mengikuti angin segar dari Amerika Serikat (AS). Optimistis, tetapi masih berjaga-jaga. Itulah sikap investor di bursa saham saat ini melihat perkembangan ekonomi makro nasional dan global. Tidak heran, volatilitas meninggi sementara aksi beli obligasi pemerintah terus berlanjut.
Data inflasi Mei secara bulanan menunjukkan terjadi perlambatan, sementara secara tahunan terjadi penguatan. Artinya, efek perang Ukraina belum terlalu signifikan bagi daya beli masyarakat, dan sebaliknya sinyal pemulihan terus terjadi sebagaimana terlihat dari penguatan inflasi secara tahunan (dibandingkan dengan Mei tahun lalu ketika pandemi masih mencekam). Kabar baik terutama muncul dari inflasi inti yang sedikit melambat menjadi 2,58% (yoy), dari posisi April di 2,6% (yoy). Inflasi yang mengecualikan barang volatil ini menjadi acuan Bank Indonesia (BI) dalam menetapkan kebijakan moneter, karena mencerminkan daya beli rakyat. Dengan inflasi yang melandai, tekanan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga menjadi lebih kecil. Dengan suku bunga acuan di tahan di rekor terendah 3,5%, pertumbuhan ekonomi pun akan terbantu. Oleh karenanya, untuk pertengahan pertama bulan Juni ini belum ada alasan untuk khawatir dengan prospek ekonomi makro nasional dan global. Data inflasi kemarin akan menjadi alasan bagi investor untuk memburu kembali aset berisiko seperti saham. Saham ritel, perbankan, dan konsumer berpeluang kembali dilirik setelah kemarin diterpa aksi jual mengikuti sentimen global di mana bursa Amerika Seriat (AS) terkoreksi dua hari beruntun karena kekhawatiran akan efek buruk dari kenaikan agresif suku bunga acuan. Namun hari ini, pelaku pasar di AS kembali mendapatkan keyakinan bahwa efek pengetatan kebijakan moneter tersebut tidak akan banyak memukul ekonomi, sebagaimana terlihat dari data pembukaan lapangan kerja yang masih positif. Rilis data tenaga kerja per Mei pun diperhatikan pada hari ini, untuk mendapatkan konfirmasi mengenai daya tahan penyerapan tenaga kerja di tengah kenaikan bunga acuan yang terjadi dan bayang-bayang inflasi tinggi. Ekonom memperkirakan ada 328.000 lapangan kerja baru di luar sektor pertanian per Mei, masih tumbuh meski melambat dibandingkan dengan posisi April sebanyak 428.000. Artinya, pembukaan lapangan kerja baru masih terjadi, meski tak semasif pada bulan sebelumnya.
Tekanan global berupa kenaikan harga energi pun diekspektasikan berkurang, setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) memutuskan menaikkan produksinya dalam rapat tadi malam (WIB). Rapat OPEC+ yang diikuti anggota OPEC dan produsen minyak di luar OPEC, memutuskan menaikkan produksi sebesar 648.000 barel per hari pada Juli dan Agustus, mengakhiri pemangkasan produksi terbesar dalam sejarah akibat pandemi Covid-19. Pasar hari ini diperkirakan akan bergerak volatile, manfaatkan kesempatan untuk trading jangka pendek.







