Investor Menanti Rapat Bank Indonesia, Market Global Ijo Royo-Royo, Gimana IHSG? | 01 January 1970
'Indeks pada perdagangan kemarin ditutup menguat pada level 7044. indeks ditopang oleh sektorBasic Materials (1.278%), Consumer Cyclicals (0.472%), Energy (1.974%), Financials (0.717%), Healthcare (0.132%), Industrials (0.632%), Infrastructures (1.748%), Consumer Non-Cyclical (1.155%), Properties & Real Estate (0.383%), Technology (1.716%), Transportation & Logistic (1.287%). Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 7000 dan level resistance 7100
Bursa saham Negeri Adidaya (Amerika Serikat/AS), kembali dibuka kemarin setelah long weekend karena adanya libur Juneteenth untuk merayakan berakhirnya perbudakan di Paman Sam. Bursa Wall Street langsung ditutup cerah bergairah pada perdagangan Selasa (21/6/2022) setelah melewati pekan lalu yang brutal. Kinerja tak kalah cemerlang ditunjukkan S&P 500 yang berakhir melonjak 2,45% atau 89,95 poin ke posisi 3.764,79, dan Nasdaq Composite menguat 270,95 poin atau 2,51% ke level 11.069,30.Sektor energi menjadi pengerek utama pergerakan S&P menyusul kenaikan harga minyak mentah. Saham sektor energi naik 5,1% kemarin. Saham raksasa di bidang teknologi juga terbang. Saham Alphabet melonjak 4,1% sementara Apple naik 3,3% dan Amazon menguat 2,3%.Pekan lalu, ketiga bursa tersebut menjalani pekan yang brutal karena banyaknya aksi jual menyusul keputusan bank sentral AS (The Federal Reserve/Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps. Mayoritas indeks saham utama AS mengalami penurunan selama sepuluh pekan karena kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga secara agresif untuk menjinakkan inflasi dengan risiko menyebabkan penurunan ekonomi. Bayang-bayang resesi makin dekat setelah sejumlah data ekonomi mulai dari penjualan ritel, indeks kepercayaan konsumen, inflasi, serta penjualan rumah baru memburuk. Goldman Sachs bahkan memperkirakan kemungkinan AS jatuh ke jurag resesi dalam setahun ke depan meningkat menjadi 30% dari sebelumnya 15%.
Optimisme kembali mewarnai pasar keuangan Indonesia. Optimisme tersebut tecermin dari membaiknya kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata uang rupiah. Namun, pasar obligasi masih bergerak negatif. Kabar baik juga datang dari pasar mata uang. Rupiah akhirnya sukses mencatat penguatan melawan dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan kemarin sekaligus mengakhiri pelemahan dalam 6 hari beruntun, dengan total sekitar 2%. Rupiah langsung menguat ke Rp 14.810/US$. Penguatan rupiah kemudian terpangkas hingga tersisa 0,03% saja. Tetapi, setelahnya melesat 0,54% ke Rp 14.750/US$, sebelum mengakhiri perdagangan di Rp 14.810/US$, sama dengan level saat pembukaan atau menguat 0,13%.
Dari dalam negeri, Perhatian pelaku pasar hari ini juga akan tertuju kepada Rapat Dewan Gubernur (RDG). Setelah bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) dan bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) menaikkan suku bunga pekan lalu, pasar kini menebak-nebak kemana arah kebijakan BI. Dalam beberapa kesempatan, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kubu MH Thamrin tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Terlebih, inflasi diharapkan lebih terkendali karena pemerintah sudah memastikan tidak akan menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. BI tentu saja tidak harus terpaksa menaikkan suku bunga. Alih-alih menaikkan suku bunga, BI menempuh kebijakan moneter lainnya yakni menaikkan giro wajib minimum (GWM) perbankan. Namun, pernyatan tersebut tersebut keluar sebelum The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps. Perlu dicermati apakah BI akan mengikuti jejak The Fed dan puluhan bank sentral lain untuk menaikkan suku bunga. Pasalnya, pelaku pasar mulai khawatir dipertahankannya suku bunga acuan BI akan semakin meningkatkan arus modal asing keluar. Suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/ BI7DRR) sebesar 3,50% sudah bertahan sejak Februari 2021.







