Resesi dan Inflasi, Bagaimana Dampaknya? | 01 January 1970
Indeks pada perdagangan minggu lalu ditutup melemah pada level 6794. indeks dibebani oleh sektor Basic Materials (-
2.992%), Consumer Cyclicals (-1.727%), Energy (-1.75%), Financials (-2.048%), Healthcare (-0.298%), Industrials (-3.023%),
Infrastructures (-0.864%), Consumer Non-Cyclical (-0.948%), Properties & Real Estate (-1.216%), Technology (-1.719%),
Transportation & Logistic (-4.31%). Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6736 dan level
resistance 6863 . Pasar finansial Indonesia 'babak belur' pada pekan lalu. Kecemasan akan resesi, ditambah dengan inflasi di
dalam negeri yang semakin meninggi membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilanda aksi jual. Rupiah juga terkena
imbasnya, tetapi pasar obligasi masih bervariasi. Pada perdagangan Senin, ada sedikit kabar baik dari Amerika Serikat (AS)
yang bisa membuat pasar finansial Indonesia. Tetapi isu resesi dunia juga masih mempengaruhi sentimen pelaku pasar. Tandatanda Negeri Paman Sam terus bermunculan, selain data sektor manufaktur yang dibahas pada halaman sebelumnya, tingkat
keyakinan konsumen juga merosot. Data yang dirilis pada pekan lalu menunjukkan konsumen AS yang kini tidak pede
menatap perekonomian. Conference Board kemarin melaporkan tingkat keyakinan konsumen Juni merosot menjadi 98,7, dari
bulan sebelumnya 103,3. Penurunan tersebut membawa tingkat keyakinan konsumen ke titik terendah dalam 16 bulan
terakhir. Angka di bawah 100 menunjukkan konsumen pesimistis, sementara di atasnya optimistis. Prospek konsumen
semakin suram akibat kekhawatiran akan inflasi, khususnya kenaikan harga gas dan makanan. Ekspektasi kini turun ke bawah
80, mengindikasikan pertumbuhan yang lebih lemah di semester II-2022, begitu juga adanya peningkatan risiko resesi di akhir
tahun. Inflasi tinggi yang melanda banyak negara juga diperkirakan membawa perekonomian global mengalami resesi.
Citigroup kini memprediksi perekonomian global akan mengalami resesi dalam 18 bulan ke depan, dengan probabilitas
sebesar 50%. Citigroup melihat, dengan inflasi yang sangat tinggi, maka daya beli masyarakat yang merupakan motor
penggerak perekonomian akan tergerus. Dengan kondisi tersebut aset-aset berisiko tentunya menjadi kurang diuntungkan,
bursa saham terancam mengalami aksi jual.
Meski dunia terancam mengalami resesi, Indonesia bisa dikatakan masih aman. Sebabnya inflasi yang masih terjaga, tetapi
pelambatan ekonomi pasti terjadi.Tanda-tanda pelambatan sudah mulai terlihat. Ekspansi sektor manufaktur mulai
melambat, bahkan nyaris mengalami kontraksi. S&P Global mengumumkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan
Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia periode Juni 2022 berada di 50,2. PMI menggunakan angka 50 sebagai tolok
ukur. Kalau masih di atas 50, maka artinya berada di zona ekspansi. Akan tetapi, pencapaian Juni turun dibandingkan bulan
sebelumnya yang tercatat 50,8. Skor PMI manufaktur Indonesia memang sudah 10 bulan beruntun di atas 50, tetapi Juni
menjadi yang terendah. PMI berada di posisi terendah selama periode ekspansi, hanya tipis di atas zona netral 50. Hanya ada
sedikit perbaikan, yaitu di sektor kesehatan. Industri pengolahan merupakan kontributor terbesar produk domestik bruto
(PDB) berdasarkan lapangan usaha. DI kuartal I-2022 kontribusinya lebih dari 19% dari total PDB. Sehingga, ketika sektor
manufaktur berkontraksi, pastinya akan berdampak ke pelambatan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, inflasi yang terus merangkak naik bisa berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Berdasarkan
pengeluaran, belanja rumah tangga merupakan kontributor terbesar PDB, dengan porsi mencapai 53,65% di kuartal I-2022.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menjaga inflasi tetap tindak meroket. Hal ini membuat pemerintah
menambah subsidi energi, sehingga harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan gas 3 kg tidak dinaikkan. Selain itu,
Bank Indonesia (BI) juga masih belum mengeluarkan "senjata pamungkas" untuk meredam inflasi, yakni suku bunga. Hingga
saat ini, BI masih enggan menaikkan suku bunga. Namun, BI siap menaikkan suku bunga ketika inflasi inti terus menanjak.
Selain itu, nilai tukar rupiah meski belakangan ini tertekan tetapi kinerjanya masih cukup bagus ketimbang mata uang Asia
lainnya. Tingginya harga komoditas membuat neraca perdagangan Indonesia surplus 25 bulan beruntun. Alhasil, transaksi
berjalan juga ikut surplus dan membuat pasokan devisa mengalir ke dalam negeri. Kinerja rupiah pun tidak terlalu buruk
bahkan di akhir semester I-2022 saat permintaan valuta asing biasanya besar. Di kuartal II-2022, Bank Indonesia (BI)
memperkirakan transaksi berjalan masih akan surplus.







