Sempat tertekan cukup dalam, Bagaimana market hari ini? | 01 January 1970
Pasar finansial Indonesia babak belur awal pekan kemarin akibat kecemasan akan resesi yang berisiko melanda dunia.
Investor asing yang sebelumnya getol mengalirkan modal ke dalam negeri kini mulai menariknya kembali. Indonesia yang
dulu menjadi "surga" investasi pasar saham kini mulai ditinggalkan. Data pasar menunjukkan sepanjang bulan Juni investor
asing net sell sebesar Rp 7,5 triliun. Capital outflow tersebut lebih besar dari bulan sebelumnya Rp 3,5 triliun. Padahal, dalam
4 bulan pertama tahun ini, investor asing getol melakukan beli bersih. Puncaknya pada bulan April lalu saat net buy mencapai
US$ 40 triliun. Indonesia seolah menjadi "surga" investasi saat perang Rusia dan Ukraina terjadi. Eropa mengalami capital
outflow yang masif, modal tersebut mencari tempat baru untuk "berkembang biak" dan Indonesia menjadi salah satu
tujuannya. Ketika dunia terancam resesi, perekonomian Indonesia mulai menunjukkan pelambatan. Hal ini terlihat dari
aktivitas sektor manufaktur yang berkespansi tetapi berada di level terendah sejak September 2021. Ekspansi yang rendah
terjadi saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kini lebih longgar ketimbang akhir tahun lalu. Hal ini bisa
menjadi indikasi perekonomian Indonesia mulai melambat. Apalagi industri pengolahan merupakan kontributor terbesar
produk domestik bruto (PDB) berdasarkan lapangan usaha. DI kuartal I-2022 kontribusinya lebih dari 19% dari total PDB.
Selain dari dalam negeri, data aktivitas sektor jasa China versi Caixin bisa berdampak pada pergerakan pasar. Pada Mei lalu,
sektor jasa China mengalami kontraksi, terlihat dari purchasing managers index (PMI) sebesar 41,4. PMI menggunakan angka
50 sebagai ambang batas. Di bawahnya berarti kontraksi, sedangkan di atasnya ekspansi. Jika sektor jasa tersebut kembali
berekspansi (ke atas 50) maka akan menjadi sentimen positif ke pasar finansial.Data yang dirilis Jumat lalu menunjukkan
manufaktur China kembali berekspansi, dengan angka PMI 51,7, bahkan lebih tinggi dari prediksi Reuters 50,1.
Investor masih akan terpengaruh sentimen dari dalam negeri di mana tanda-tanda pelambatan ekonomi masih menjadi
perhatian. Ekspansi sektor manufaktur menunjukkan pelambatan yang signifikan, berada di level terendah dalam 10 bulan
terakhir. Kemudian inflasi juga terus meninggi. Pada bulan Juni inflasi tercatat tumbuh 4,35% year-on-year (yoy), tertinggi
dalam 5 tahun terakhir. Tetapi kenaikan inflasi inti tidak setinggi inflasi headline, sebesar 2,63% (yoy). RBA di awal tahun ini
sebenarnya masih menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Suku bunga disinyalkan akan naik pada
2023. Nyatanya, di semester I-2022, RBA sudah menaikkan suku bunga 2 kali, bahkan lebih tinggi dari prediksi. Pada Juni,
Reuters memprediksi RBA di bawah pimpinan Philip Lowe akan menaikkan 25 basis poin, ternyata sebesar 50 basis poin.
Begitu juga di Mei, prediksi 15 basis poin, RBA ternyata menaikkan 25 basis poin. Semakin agresif bank sentral menaikkan
suku bunga, ekspansi dunia usaha akan semakin melambat, maka ancaman resesi dunia semakin nyata.
'Indeks pada perdagangan minggu lalu ditutup melemah pada level 6639. indeks dibebani oleh sektor. Technology (-4.004%),
Transportation & Logistic (-3.571%), Consumer Non-Cyclical (-2.661%), Financials (-2.583%), Basic Materials (-1.825%),
Properties & Real Estate (-1.78%), Consumer Cyclicals (-1.66%), Healthcare (-1.467%), Infrastructures (-1.196%), Industrials (-
1.125%), Energy (-0.459%). Indeks pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range level support 6600 dan level resistance
6700







