Penguatan ditengah ketidakpastian pasar, Akankah bertahan? | 01 January 1970
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya sukses menguat setelah jeblok enam hari beruntun dengan total
nyaris 7%. Sayangnya bangkitnya IHSG belum mampu diikuti oleh rupiah dan pasar obligasi, di mana mayoritas
tenor Surat Berharga Negara (SBN) mengalami pelemahan. IHSG Selasa kemarin sukses mencatat penguatan 0,97%
ke 6.703,266. Sayangnya, investor asing masih melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 575,51 miliar di pasar
reguler, tunai dan nego. Pelemahan rupiah terus dipantau oleh Bank Indonesia. Gubernur BI, Perry Warjiyo
memberikan sinyal kebijakan baru dalam menyikapi perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian
dan mempengaruhi kondisi dalam negeri. Hal ini disampaikan Perry dalam siaran pers yang diterbitkan Senin.
Sederet ketidakpastian global ditandai dengan risiko stagflasi seiring kenaikan suku bunga kebijakan secara global
di tengah ekonomi yang baru pulih, serta makin luasnya kebijakan proteksionisme oleh berbagai negara. Ke depan,
Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan
dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan stabilitas
keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan bila diperlukan, serta terus memperkuat sinergi
dengan Pemerintah untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Dari pasar obligasi, hanya SBN tenor 25 dan
30 tahun yang mengalami penguatan tipis. Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi, ketika yield
turun harganya naik, begitu juga sebaliknya. Saat harga naik, berarti ada aksi beli. Meski belakangan ini pasar
obligasi bergerak lebih stabil ketimbang pasar saham, tetapi capital outflow yang terjadi sangat besar. Data Bank
Indonesia menunjukkan hingga semester satu tahun ini, terjadi outflow di pasar SBN sebesar Rp 111,12 triliun
Sementara dari Wall Street yang berfluktuasi belum bisa memberikan sentimen positif ke pasar Asia pada
perdagangan hari ini. Malah, isu resesi dunia masih akan terus menghantui pasar finansial global termasuk
Indonesia. Jebloknya harga minyak mentah menjadi indikasi ketakutan pasar akan resesi dunia. Minyak jenis West
Texas Intermediate (WTI) ambrol 8,2% ke bawah US$ 100/barel, bahkan sebelumnya sempat merosot lebih dari
10%. Brent juga merosot hingga 9,5% ke US$ 102,77/barel. Ketakutan akan terjadinya resesi membuat dolar AS
yang menyandang status safe haven menjadi primadona. Indeksnya dolar AS pun melesat lebih dari 1% ke atas
level 106 yang merupakan posisi tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Hal ini tentunya bisa membuat rupiah terpuruk
ke atas Rp 15.000/US$. Isu resesi diawali dari Amerika Serikat yang diprediksi akan mengalami resesi di akhir tahun
ini, bahkan bisa lebih cepat lagi. Inflasi di AS yang mencapai 8,6% year-on-year (yoy), tertinggi dalam 40 tahun
terakhir membuat daya beli masyarakatnya tergerus. Seperti diketahui, konsumsi rumah tangga merupakan tulang
punggung perekonomian AS, porsinya terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 70%. Bulan ini, bank sentral
paling powerful di dunia ini akan kembali menaikkan sebesar 50 - 75 basis poin, dan di akhirnya tahun suku bunga
diproyeksikan berada di kisaran 3,25% - 3,5%. Masalah muncul di sini, suku bunga yang dianggap pro pertumbuhan
berada di bawah 2,5%, sementara di atasnya akan memicu kontraksi ekonomi. Maklum saja, dengan suku bunga
tinggi, kredit akan seret, ekspansi dunia usaha juga akan melambat, begitu juga dengan belanja konsumen yang
akan semakin tertekan. Alhasil, Amerika Serikat diperkirakan akan mengalami resesi. Negara dengan nilai
perekonomian terbesar di dunia ini bahkan diperkirakan akan mengalami resesi yang panjang, meski kontraksi
ekonominya tidak akan dalam.
Secara Teknikal, 'Indeks pada perdagangan minggu lalu ditutupmenguat pada level 6703. indeks ditopang oleh
sektor. Energy (4.078%), Industrials (2.045%), Transportation & Logistic (1.663%), Basic Materials (1.405%),
Infrastructures (1.2%), Properties & Real Estate (0.98%), Financials (0.827%), Healthcare (0.778%), Consumer NonCyclical (0.712%), Technology (0.708%), Consumer Cyclicals (0.39%) . Indeks pada hari ini diperkirakan akan
bergerak pada range level support 6650 dan level resistance 6750







