Ditengah isu inflasi dan resesi, Apakabar market hari ini? | 01 January 1970
Pasar finansial Indonesia kembali tertekan Rabu kemarin. Rupiah yang paling menjadi sorotan setelah menembus
Rp 15.000/US$ untuk pertama kalinya sejak Mei 2020. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang
sukses rebound Selasa lalu kembali masuk ke zona merah. Artinya, dalam 8 hari perdagangan, IHSG sudah merosot
selama 7 kali. Isu resesi dunia terus membayangi pergerakan pasar finansial global, termasuk di dalam negeri.
Warga Amerika Serikat bahkan merasa resesi sebenarnya sudah terjadi. Warga AS semakin "miskin". Tentunya
miskin yang disebutkan tersebut tidak sama dengan di Indonesia. kekhawatiran resesi masih terus membayangi.
Apalagi yield Treasury kembali mengalami inversi. Inversi tersebut terjadi setelah yield Treasury tenor 2 tahun
(2,996%) lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun (2,934%). Dalam kondisi normal, yield tenor lebih panjang akan
lebih tinggi, ketika inversi terjadi posisinya terbalik. Sebelumnya inversi juga terjadi di bulan April lalu, dan menjadi
sinyal kuat akan terjadinya resesi di Amerika Serikat. Berdasarkan riset dari The Fed San Francisco yang dirilis 2018
lalu menunjukkan sejak tahun 1955 ketika inversi yield terjadi maka akan diikuti dengan resesi dalam tempo 6
sampai 24 bulan setelahnya. Sepanjang periode tersebut, inversi yield Treasury hanya sekali saja tidak memicu
resesi (false signal). Setelah rilis riset tersebut, inversi yield terjadi lagi di Amerika Serikat pada 2019 lalu yang
diikuti dengan terjadinya resesi, meski juga dipengaruhi oleh pandemi penyakit akibat virus corona
Dari pasar global, Penguatan Wall Street bisa menjadi angin segar ke pasar Asia pada perdagangan hari ini,
termasuk Indonesia. IHSG berpeluang menguat, meski risiko akan bergerak volatil lebih besar akibat isu resesi.
Resesi di Amerika Serikat akan terjadi di akhir tahun ini, atau tahun depan. Suatu negara dikatakan mengalami
resesi jika produk domestik bruto mengalami kontraksi dua kuartal beruntun. Amerika Serikat memang belum
mengalami hal tersebut, tetapi warganya sudah merasakan kemerosotan perekonomian. Masalahnya tidak hanya
di AS, banyak negara yang diprediksi akan mengalami resesi akibat masalah yang sama, tingginya inflasi. Tingginya
inflasi membuat bank sentral AS (The Fed) sangat agresif dalam menaikkan suku bunga. Seperti diketahui pada
bulan lalu The Fed menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 1,5% - 1,75%. Kenaikan tersebut menjadi yang
terbesar sejak 1994, dan di bulan ini akan kembali menaikkan sekitar 50 - 75 basis poin. Hal itu ditegaskan dalam
rilis notula rapat kebijakan moneter The Fed dini hari tadi. Bahkan, dalam notula tersebut tersurat The Fed bisa
mengambil kebijakan lebih agresif lagi jika tekanan inflasi belum mereda. Komitmen The Fed untuk bertindak
semakin agresif guna meredam inflasi membuat yield Treasury kembali menanjak. Hal ini bisa memberikan
tekanan bagi SBN.
Dari dalam negeri, rilis data cadangan devisa Indonesia akan menjadi perhatian. Bank Indonesia (BI) pada awal
bulan lalu melaporkan cadangan devisa pada akhir Mei sebesar US$ 135,6 miliar, turun US$ 100 juta dibandingkan
bulan sebelumnya. Sepanjang bulan Juni lalu, rupiah tertekan dengan pelemahan tercatat sebesar 2,16%, menjadi
yang terbesar Juli 2020 ketika melemah 2,5%. Jika cadangan devisa menurun tajam, ada indikasi BI banyak
melakukan intervensi. Tetapi jika penurunan tidak terlalu besar atau malah meningkat, artinya rupiah bergerak
sesuai mekanisme pasar dan minim intervensi. Hal ini bisa menjadi kabar bagus, sebab dengan besarnya tekanan
dari eksternal dan kebutuhan valuta asing yang besar di dalam negeri, pelemahan rupiah tidak mengalami
kemerosotan tajam.
Secara Teknikal, 'Indeks pada perdagangan minggu lalu ditutupmenguat pada level 6703. indeks ditopang oleh
sektor. Energy (4.078%), Industrials (2.045%), Transportation & Logistic (1.663%), Basic Materials (1.405%),
Infrastructures (1.2%), Properties & Real Estate (0.98%), Financials (0.827%), Healthcare (0.778%), Consumer NonCyclical (0.712%), Technology (0.708%), Consumer Cyclicals (0.39%) . Indeks pada hari ini diperkirakan akan
bergerak pada range level support 6650 dan level resistance 6750







