Rilis laporan keuangan beserta rencana pembelian Credit Suisse oleh UBS bisa menjadi faktor pendorong minggu ini. | 01 January 1970
IHSG sepanjang pekan lalu tercatat ambles 1,29% secara point-to-point (ptp). Namun pada perdagangan Jumat (17/3/2023) pekan lalu, IHSG ditutup melonjak 1,71% di posisi 6,678,237.
Data pasar menunjukkan investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih hingga mencapai Rp 2,72 triliun di pasar reguler sepanjang pekan lalu. IHSG yang ambles, rupiah yang perkasa, dan yield SBN yang melandai terjadi berkaitan dengan kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) yang dimulai pada Jumat pekan lalu dan berimbas ke beberapa bank di Amerika Serikat (AS) dan bahkan berimbas ke salah satu bank di Swiss. Pasar khawatir bahwa fenomena krisis yang pernah terjadi di 2008-2009 kembali terulang di tahun ini. Hal ini karena krisis SVB berimbas ke beberapa bank.
Adanya sentimen data ekonomi juga sepertinya tidak dapat membendung pelemahan yang terjadi pada minggu lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu lalu mencatat, neraca perdagangan Indonesia tetap mengalami surplus pada Februari 2023. Surplus tercatat sebesar US$5,48 miliar. Surplus ini disebabkan ekspor yang lebih tinggi yakni US$ 21.40 miliar, sementara itu impor hanya US$ 15,92 miliar. Selain itu, sentimen lainya di mana Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan ini seiring dengan kebijakan moneter netral yang bertujuan untuk mencapai target inflasi 2%-4% pada September tahun ini sambil mendukung pertumbuhan ekonomi.
Meskipun inflasi tahunan meningkat menjadi 5,47% pada bulan Februari, BI tetap mempertahankan pandangan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,5%-5,3% untuk tahun ini. Setelah krisis perbankan di AS, pelaku pasar global memperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal melunak, meski data tenaga kerja di AS masih cukup kuat.Surplus tersebut tercatat lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar US$ 3,87 miliar.







