Pasar Kecewa, di Luar Ekspektasi, Inflasi AS Masih Melesat di Luar Dugaan | 01 January 1970
IHSG pada perdagangan kemarin ditutup menguat 0,05% atau ke 6.935,151. Kenaikan kemarin menjadikan posisi IHSG kembali berada di atas level 6.900. Penguatan bursa efek Indonesia kembali ditopang sektor infrastruktur. Sektor konsumen siklikal dan kesehatan ikut mendorong IHSG mampu terapresiasi. Penguatan IHSG kemarin didorong oleh kenaikan sektor infrastruktur 3,5%, properti 1,08%, dan siklikal 0,61%. Sedangkan, sektor yang tertekan signifikan yaitu industri bahan dasar 1,4%, energi 0,9%, dan teknologi 0,89%. Sebanyak 221 saham bergerak naik, 330 bergerak turun dan 307 tidak berubah dengan transaksi turnover Rp 12,2 triliun dengan 33 miliar lembar saham.
Penopang kenaikan IHSG datang dari PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang baru saja melantai di bursa melalui IPO pada 9 Oktober 2023. Perusahaan ini mengalami kenaikan 24,69% atau menyentuh ARA (Auto Reject Atas) menjadi Rp 1.890 per saham. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pemberat IHSG dengan penurunan 12,42 indeks poin. Saham GOTO yang bergerak di sektor teknologi ini disinyalir terkoreksi seiring rencana perseroan yang akan melakukan Penambahan Modal dengan Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau private placement, dengan menerbitkan 17,04 miliar saham baru.
Dow Jones ditutup melemah 0,51% di posisi 33.631,14, sementara S&P 500 turun 0,62% di posisi 4.349,61, begitu juga dengan Nasdaq terkoreksi 0,63% di posisi 13.574,22. Terdepresiasinya pasar AS mengakhiri reli kenaikan 4 hari beruntun.
Inflasi AS di luar dugaan melaju kencang pada September 2023. Inflasi AS menembus 0,4% (mtm) dan 3,7% (yoy) pada September 2023. Data inflasi membuat pasar kecewa karena mencerminkan masih panasnya ekonomi AS. Kondisi ini pada berujung pada ketatnya kebijakan bank sentral AS The Fed ke depan. Inflasi September masih jauh dari target sasaran The Fed yakni 2%. Inflasi juga diperkirakan sulit turun ke depan karena tingginya imbal hasil US Treasury serta lonjakan harga energi akibat perang Israel vs Hamas. US Treasury tenor 10 tahun kini mendekati 5% dan diyakini akan membuat bunga pinjaman perumahan melesat sehingga inflasi pada sektor tersebut sulit turun ke depan.
Selain itu, Perang antara kelompok Hamas Palestina dan pasukan Israel belum juga usai dan menjadi perhatian pelaku pasar. Jumlah korban tewas juga terus meningkat di Israel, Jalur Gaza dan Tepi Barat (West Bank). Badan Energi Internasio
nal (IEA) menegaskan terkait pasokan minyak. Perang akan membawa risiko gangguan pasokan minyak.
Source: CNBC Indonesia, Divisi Research Erdikha







