Lagi-lagi Minyak Mentah Melonjak, Neraca Dagang Indonesia Diprediksi Surplus | 01 January 1970
Sepanjang pekan lalu, indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut menguat 0,56% secara point-to-point (ptp), lebih baik dari posisi pekan sebelumnya yang terkoreksi 0,74%. Kendati demikian, pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/10/2023), IHSG melemah oo,12% di posisi 6.926,79. Selama sepekan, nilai transaksi IHSG mencapai Rp 42,7 triliun. Kendati, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 100,74 miliar di seluruh pasar sepanjang pekan lalu.
Dari Indonesia, data neraca perdagangan pada periode September 2023 akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Surplus neraca perdagangan pada September 2023 akan mencapai US$ 2,27 miliar. Surplus tersebut lebih rendah dibandingkan Agustus 2023 yang mencapai US$ 3,12 miliar. Jika neraca perdagangan kembali mencetak surplus maka Indonesia sudah membukukan surplus selama 41 bulan beruntun. Konsensus juga menunjukkan bahwa ekspor akan terkontraksi 23,5% (year-on-year/yoy), sementara impor diprediksi terkoreksi 3,3% (yoy) pada September 2023.
Indeks S&P 500 turun 0,50%, berakhir di level 4.327,78. Nasdaq Composite yang padat saham teknologi kehilangan 1,23%, mendarat di 13,407.23. Sementara, indeks Dow Jones menjadi outlier, naik 0,12%, ditutup pada 33,670.29.
Secara mingguan, S&P 500 dan Dow mencatatkan kenaikan. S&P 500 naik 0,45% menandai minggu positif kedua, sementara Dow naik 0,79%. Berbeda, Nasdaq turun 0,18%. Pergerakan indeks saham AS diwarnai sentimen konsumen dirilis Jumat pagi waktu setempat. Menurut survei Universitas Michigan, data awal sentimen konsumen merosot di Oktober, sedangkan ekspektasi inflasi melonjak.







