Bursa Global Variatif, Rupiah Menguat, Bagaimana Pasar Saham ? | 01 January 1970
*MORNING IDEA SUMMARY*
_by: Erdikha Elit Sekuritas_
Tuesday, March 19, 2024
- IHSG 7,302 *Melemah* (-0.35%)
- IDX Transaction Value 9.68 T
- Net Foreign Buy/Sell 96.79 B
*_Market Centiment_*
"SENTIMEN GLOBAL
- Pasar saham global bergerak variatif pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500, Eurostoxx, dan Shanghai komposit masing-masing bergerak sebesar +0.63%, -0.04%, dan +0.99%.
- obligasi AS tenor acuan 10 tahun ditutup naik dari 4.31% ke 4.33%. Pergerakan pasar dipengaruhi oleh inflasi AS yang berada di atas ekspektasi, menguatnya inflasi produsen AS, dan Jepang yang terhindar dari resesi.
SENTIMEN DOMESTIK
- Faktor global juga mempengaruhi pergerakan pasar di level domestik. Rupiah ditutup mrnguat +0.64% ke level 15,745.
- Imbal hasil obligasi negara tenor acuan 10 tahun naik dari 6.64% ke 6.75% dan IHSG turun -0.35% di tengah tertekannya surplus dagang dan rating Indonesia yang tidak berubah.
SENTIMEN MAKRO
- Surplus Dagang Tertekan (Surplus neraca perdagangan pada Februari 2024 turun jauh ke tingkat $0.87 miliar dari $2.00 miliar di Januari 2024. Angka neraca tersebut turut berada jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar $2.30 miliar.)
- Sebab : Menurunnya surplus disebabkan oleh penurunan ekspor yang tercatat tumbuh negatif -9.5% YoY. Penurunan ekspor terbesar datang dari CPO yang turun -30.6% YoY, disusul oleh besi dan baja sebesar -22.1% YoY. Selain akibat low-base effect, impor tumbuh 15.8% YoY juga akibat kenaikan impor bahan konsumsi 36.5% YoY dan barang modal 18.52% YoY.
- Akibat : Merosotnya surplus dagang secara signifikan menjadi katalis negatif bagi defisit current account. Kendati demikian, neraca dagang diekspektasikan akan membaik ketika harga pangan mulai turun dan impor berkurang.
- Rating Indonesia Tetap (Fitch menetapkan rating surat utang Indonesia pada tingkat BBB dengan outlook stabil. Peringkat serta outlook tersebut tidak mengalami perubahan dari rilis terakhir Fitch pada September 2023.)
- Sebab : Fitch melihat pertumbuhan ekonomi jangka menengah masih terjaga dengan rasio utang terhadap PDB yang menurun. Inflasi masih diekspektasikan terjaga ke depan. Dengan arah kebijakan ke depan yang beorientasi pada keberlanjutan, maka kerentanan pada neraca eksternal diekspektasikan berkurang.
- Akibat : Ditengah ekspektasi pelebaran defisit fiskal, peringkat serta outlook yang masih terjaga menunjukan kekhawatiran pasar saat ini masih terlalu dini. Kenaikan defisit yang direncanakan gradual dan terencana dapatmenjaga risiko koreksi akibat kenaikan suplai SBN.
- Inflasi AS Di Atas Ekspektasi (Inflasi AS pada Februari 2024 tercatat naik dari 3.1% YoY ke 3.2% YoY. Pergerakan inflasi tersebut berbeda dengan perkiraan konsensus yang melihat inflasi akan stabil pada 3.1% YoY.)
- Sebab : Naiknya inflasi terjadi akibat membaiknya deflasi energi dari -4.6% YoY ke -1.9% YoY. Selain itu, inflasi jasa masih tercatat tinggi di 4.9% YoY didorong oleh komponen shelter dan jasa transportasi yang masing-masing mencatat inflasi 5.7% dan 9.9% YoY.
- Akibat : Data inflasi yang berbalik naik meningkatkan kekhawatiran investor akan berkurangnya peluang pivot The Fed. Yield UST 10 tahun naik dari 4.09% ke 4.15% pada hari rilis data inflasi.
- Inflasi Produsen AS Menguat (nflasi produsen AS pada Februari 2024 mengalami kenaikan dari 1.0% YoY ke 1.6% YoY. Kenaikan inflasi tersebut lebih tinggi dari konsensus yang melihat inflasi produsen akan naik ke tingkat 1.2% YoY)
- Sebab : Inflasi produsen menguat didorong oleh komponen barang yang mengalami inflasi sebesar 0.3% YoY setelah sejak Oktober 2023 tercatat mengalami deflasi. Sementara inflasi untuk komponen jasa masih terjaga pada tingkat 2.3% YoY dalam dua bulan terakhir.
- Akibat : Kenaikan inflasi produsen tersebut direspon negatif oleh pasar. Yield UST 10 tahun tercatat naik dari 4.19% ke 4.29% setelah rilis data tersebut. Kenaikan inflasi produsen dikhawatirkan dapat merambat pada inflasi konsumen sehingga membuat penurunan inflasi lebih lambat.
PANDANGAN KAMI
- Ke empat faktor pilihan di atas mengindikasikan proses penurunan yield SBN dalam jangka panjang dimulai. Di sisi lain, pasar saham masih berpotensi menguat terbatas kendati volatilitas masih tinggi. Alokasi kelas aset yang kami sarankan adalah Obligasi > Saham > Pasar uang. Kami memproyeksikan IHSG di 1H24 untuk best scenario di 7,400 dan worst scenario di 7,000"
*_Indonesia Macro Economic Indicator_*
- GDP Growth Rate 0.45 percent
- GDP Annual Growth Rate 5.04 percent
- Unemployment Rate 5.32 percent
- Inflation Rate 2.75 percent
- Inflation Rate MoM 0.37 percent
- Interest Rate 6 percent
- Balance of Trade 867 USD Million
- Current Account -1290 USD Million
- Current Account to GDP 1 percent of GDP
- Government Debt to GDP 39.9 percent of GDP
- Government Budget -1.65 percent of GDP
- Business Confidence 13.17 points
- Manufacturing PMI 52.7 points
*_Emiten News Highlight_*
- Surplus 22 Persen, Laba Summarecon (SMRA) 2023 Sentuh Rp765 Miliar
- Usai TPIA, Prajogo Pangestu Buang 2 Miliar Saham Barito (BRPT)
- Drop 319 Persen, Emiten Sandiaga (SRTG) 2023 Boncos Rp10 Triliun
- BCA (BBCA) Tabur Sisa Dividen Rp227,5 per Helai
- Anggarkan Rp7,5 Miliar, Mulia Boga Raya (KEJU) Siap Buy Back Saham
*_Rekomendasi:_*
Speculative Buy ERAA (434)
Target Price: 442 - 454
Stop Loss jika di bawah 420
Keterangan: Consolidation, entry level: 424-434
Speculative Buy SMRA (520)
Target Price: 530 - 545
Stop Loss jika di bawah 500
Keterangan: Oversold, entry level: 510-520
Buy on Weakness INKP (9,150)
Target Price: 9,325 - 9,600
Stop Loss jika di bawah 8,875
Keterangan: Bullish breakaway, entry level: 8900-9150
Speculative Buy GOTO (73)
Target Price: 74 - 76
Stop Loss jika di bawah 70
Keterangan: Bullish breakaway, entry level: 71-73
Buy on Weakness MEDC (1,485)
Target Price: 1,510 - 1,555
Stop Loss jika di bawah 1,440
Keterangan: Consolidation, entry level: 1450-1485
*_AO DISCLAIMER ON_*
Full report: https://erdikha.com/Edukasi







